Friday, November 2, 2007

Akhirnya Saya Punya Blog

Sebelumnya, saya tak pernah mau membuat sebuah blog. Tapi kini, setelah memikirkan manfaat dan mudharatnya, saya memutuskan untuk membuat blog. Keinginan yang kini telah terealisasi itu berangkat dari keinginan untuk berbagi dengan semua orang yang punya minat sama dengan saya: sejarah.

Karena sejarah itu memberi pelajaran kepada kita. Historia Docet!

Semoga blog sederhana ini, memberi manfaat bagi kita semua. Tabik.

Thursday, June 21, 2007

Ruh Perlawanan Putra Sang Fajar

Bung Karno adalah lawan yang niscaya bagi kolonialisme dan imperialisme

Bandung, 18 Agustus 1930. Gedung pengadilan yang terletak di Jalan Landraad itu penuh sesak oleh manusia. Mereka menggeremut, berjubel, bak semut mengerubungi gula. Hari itu, seorang pemuda berperawakan tinggi-tegap nan tampan, lengkap dengan jas warna putih, pentalon dan kopiah hitamnya melangkah tegar menghadapi tuan-tuan penegak hukum kolonial Belanda. Sorot matanya tajam, menyala-nyala, menunjukkan keberaniannya.

Dia Soekarno. Usia baru beranjak 30 tahun ketika hamba hukum kolonial atas nama Sri Ratu menyeretnya ke dalam ruang pengadilan itu atas tuduhan subversif: dituduh mengotaki rencana aksi kekerasan melawan penguasa kolonial pada tahun 1930. Tuduhan sumir yang tentu saja ditampiknya.

Di antara keheningan dan bunyi putaran kipas yang terdengar merintih, Bung Karno berdiri dari bangku pesakitan. Dia mulai berbicara. Menggeledek seperti biasanya:

“Pengadilan menuduh kami telah menjalankan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami menjalankan kejahatan? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Senjata kami adalah rencana, rencana untuk mempersamakan pemungutan pajak, sehingga rakyat Marhaen yang mempunyai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani pajak yang sama dengan orang kulit putih yang mempunyai penghasilan 9.000 setahun....Tuan-tuan Hakim yang terhormat, sedangkan seekor cacing kalau ia disakiti, dia akan menggeliat dan berbalik-balik. Begitupun kami. Tidak berbeda daripada itu.”

Pengadilan tak bergeming. Bung Karno dijatuhi hukuman empat tahun penjara, dikurung dalam sebuah kamar berukuran satu setengah kali dua seperempat meter persegi. Tubuhnya dikerangkeng, tapi tidak dengan jiwa dan pikirannya. Di dalam penjara Sukamiskin, Bandung Bung Karno memperdalam pengetahuannya tentang Agama Islam dan memelajari manusia dalam wajahnya yang lain: sebagai pesakitan.

Sukarno adalah manusia multidimensi. Ia menamakan dirinya sebagai seorang pencinta. Ia mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai wanita, mencintai seni dan lebih dari semua itu ia adalah seorang yang mencintai dirinya sendiri. Ia seorang yang berperasaan halus: menarik nafas panjang di saat melihat hamparan pemandangan yang indah, dan menangis di kala mendendangkan lagu spiritual bangsa kulit hitam. Namun pada saat yang lain, dia juga bisa hadir sebagai manusia yang bersikap keras. Membatu.

Memimpin rakyat Indonesia yang dibelenggu oleh kolonialisme adalah panggilan nurani yang tak bisa lagi dibendung oleh ketakutan akan penderitaan. Menjadi pemimpin adalah sebuah jalan hidup bagi Bung Karno. Dalam biografi yang dituturkannya pada Cindy Adams ia mengatakan bahwa ia adalah anak dari kelas yang berkuasa: ibu dari kasta brahmana dan ayah dari kalangan bangsawan Jawa, keturunan Sultan Kediri. Jadi, lagi-lagi, katanya, merupakan suatu kebetulan ataupun takdir padanya untuk lahir di dalam lingkungan yang berkuasa. Sehingga pengabdiannya untuk membawa rakyat Indonesia ke gerbang kemerdekaan bukanlah satu keputusan yang tiba-tiba. Bung Karno menganggap hal itu sebagai warisan yang dititiskan kepadanya sejak Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Pertiwi pada 1956. Keyakinan itulah yang membuatnya tak ragu lagi menceburkan diri ke dalam samudera perjuangan politik.

Pada suatu pagi di awal tahun 1923, sebagai mahasiswa Technische Hoge School (THS, kini ITB), Bung Karno dipanggil untuk menghadap Rektor THS Profesor Klopper. Sang profesor tahu kalau anak didiknya ini tersangkut perkara hukum karena menyampaikan pidato politik yang mengecam penguasa. Kepada Bung Karno Klopper mengatakan, "Kamu harus berjanji bahwa sejak sekarang kamu tak akan lagi ikut-ikutan dengan gerakan politik."

"Tuan," jawab Soekarno, "Saya berjanji untuk tidak akan mengabaikan kuliah-kuliah yang Tuan berikan di sekolah." "Bukan itu yang saya minta kepadamu," sanggah si profesor. "Tetapi hanya itu yang bisa saya janjikan, Profesor," jawab Bung Karno lagi.

Bung Karno sadar sejak awal bahwa kehidupan nyaman bagi dirinya hanyalah semu, karena realita kehidupan masyarakat di mana dia tinggal sepenuhnya dikungkung oleh kebuasan sistem kolonialisme dan imperialisme. Untuk perihal itu ia menulis dalam Nasionalisme, Islam dan Marxisme yang dimuat jurnal Indonesia Muda tahun 1926. Dari tulisannya itu tampak sekali sikap antikolonialismenya. Menurut Bung Karno muda, motivasi awal kedatangan kolonialis Eropa bukanlah karena kewajiban luhur tertentu, melainkan "untuk mengisi perutnya yang keroncong belaka."

Ia percaya bahwa kolonialisme berelasi erat dengan kapitalisme. Dan kehendak ekonomi kapitalisme itu ditujukan semata-mata untuk menyerap keuntungan sebesar-besarnya dari alam dan rakyat di negeri jajahan. Ia tidak bisa berdiam diri menghadapi kenyataan itu. Bung Karno menempatkan dirinya sebagai sosok manusia yang bisa menutup matanya atas semua keadaan yang menyengsarakan rakyat jajahan yang hidup berserak di sekitarnya.

Sendainya saja dia mau, sebetulnya Bung Karno bisa saja memilih untuk hidup nyaman dan tenteram; tak perlu hidup di dalam kegelapan sel yang pengap dan hanya bertemankan seekor cicak. Selulusnya kuliah, tawaran sebagai pegawai pemerintahan datang silih berganti: mulai sebagai asisten dosen di almamaternya sampai dengan jadi pegawai dinas pekerjaan umum dalam pemerintahan kolonial. Tapi ia mempersetankan semua itu.

Tahun 1926 ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pembentukan PNI menurut penulis biografi politik Soekarno John D Legge merupakan suatu langkah maju baru yang penting bagi perjuangan nasional Indonesia. Sedangkan bagi diri Soekarno hal ini adalah pengakuan baru yang sekaligus memberinya wadah untuk mengembangkan potensi kepemimpinannya.

Melalui PNI, Bung Karno merumuskan strategi perjuangan nasional menurut pandangannya sendiri. Sebagai ketua eksekutif PNI yang hampir tak tergantikan, Soekarno bukan saja orang yang berkepala dingin dan tidak cepat kehilangan akal, tetapi juga ia memiliki kemahiran yang luar biasa dalam berpidato (Legge: 2001).

Dengan perahu PNI, ia mendayungi samudera pergerakan politik nasional untuk menebarkan semangat antikolonialisme dan seraya menanamkan rasa nasionalisme dalam benak rakyat. Rapat-rapat umum diselenggarakan PNI untuk menarik simpati rakyat. Uniknya, sekalipun ditentang keras oleh Ali Sastroamidjojo, Bung Karno juga menggunakan tenaga pekerja seks komersial (PSK) untuk menyokong perjuangannya.

“Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia. Aku dengan senang hati menganjurkan ini kepada setiap pemerintah. Dalam gerakan PNI-ku di Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh daripada anggota lain yang pernah kuketahui,” ujar Bung Karno.

Seiring dengan ketenarannya sebagai orator, pemerintah kolonial pun memperketat pengawasan terhadap Bung Karno. Si Bung Besar ini pun membuat kuping penguasa kolonial merah. Dan keluar masuk penjara adalah sebuah keniscayaan baginya. Penjara justru menjadi tempat yang tepat ntuk merenungkan bagaimana seharusnya bangunan negara-bangsa Indonesia. Di Pulau Ende, Flores, ia merenungkan konsep falsafah negara Indonesia yang kelak dikenal sebagai Pancasila.

Maret 1942. Jepang menduduki Hindia Belanda. Seperti telah diprediksikan sebelumnya oleh Bung Karno pada 1930, Jepang akan mengambilalih kekuasaan di Hindia Belanda. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bung Karno untuk melapangkan jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Sebagian sarjana, seperti Lambert Giebels, menilai kerjasama Bung Karno dengan Jepang adalah satu kecelakaan sejarah. Terlebih ketika banyak rakyat yang dikorbankan demi kepentingan fasis Jepang.

Tidak semua tokoh setuju dengan keputusan Bung Karno. Sjahrir misalnya. Konflik Bung Karno dengan Sjahrir dilatarbelakangi adanya perbedaan cara pandang terhadap Jepang. Bung Karno menganggap Jepang adalah alat, satu taktik untuk merebut kemerdekaan. “Saya akan bekerjasama dengan siapa saja, sekalipun dengan setan yang terkutuk dari neraka, jika ia membantu kemerdekaan negeriku” katanya kepada Cindy Adams.

Sedangkan Sjahrir yang dididik di Belanda punya cara pandang yang lain terhadap Jepang. Ia melihat fasisme Jepang lebih berbahaya ketimbang kolonialisme Belanda. Jalan yang ditempuh Bung Karno untuk berkolaborasi dengan Jepang menurut adalah perbuatan nista. Oleh karena itu Sjahrir lebih memilih untuk bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan sembari terus berpropaganda memerangi Jepang.

Namun demikian menurut Bung Hatta di dalam buku Bung Hatta Menjawab persoalan antara Bung Karno dan Sjahrir dilatarbelakangi oleh perselisihan kecil ketika mereka berdua dibuang ke Prapat, Sumatera Utara. Saat itu, jelas Bung Hatta, Bung Karno yang tengah mandi sembari bernyanyi dihardik oleh Sjahrir “Karno, Houd je mond!” (Karno, tutup mulutmu!). Bung Karno tersinggung. Dan dimulailah perselisihan itu. Agaknya oleh karena perselisihan itu pula Sjahrir tidak menghadiri proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno.

17 Agustus 1945 adalah saat-saat puncak dalam karir Bung Karno sebagai pemimpin politik nasionalis. Selama hari-hari menjelang proklamasi kemerdekaan itu ia menjadi tokoh sentral yang dibutuhkan. Ia menjadi lambang pemersatu yang dianggap bisa menjembatani perbedaan berbagai kelompok: muda-tua, Muslim-Non Muslim, Jawa-luar Jawa, Kiri-Kanan.

Kehidupan Bung Karno pun tak lepas dari berbagai kontroversi. Mulai dari kisah kasihnya dengan kaum hawa, proyek mercusuar sampai dengan uji coba Demokrasi Terpimpin yang dikatakan olehnya sebagai bentuk berdemokrasi ala Indonesia.

Semangat hidup Bung Karno adalah semangat berlawan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang tiada pernah berakhir. Oleh karena semangat itu pula dia dipenjara berkali-kali, dijauhi bak berpenyakit kusta. Di akhir kisah hidupnya, ia kembali menjadi pesakitan politik. Dikerangkeng di rumahnya sendiri. Tapi ironisnya, tak sedikit pun kesempatan diberikan kepadanya untuk membela diri.

Saturday, April 28, 2007

Tahsin: Tokoh Pers Terlupakan

Bangsa Indonesia adalah bangsa pelupa. Penyakit lupa itu tidak terlepas dari politik ingatan yang diberlakukan oleh pemerintah Orde Baru melalui rekayasa penulisan sejarah. Ingatan yang ditampilkan oleh Orde Baru seringkali bersifat selektif, parsial dan selalu mengacu pada pernyataan resmi pemerintah.

Semisal, pada masa Orde Baru, hari kesaktian Pancasila selalu dirayakan tanggal 1 Oktober setiap tahunnya. Sedangkan hari lahir Pancasila 1 Juni tak pernah diperingati. Soeharto juga digembar-gemborkan sebagai bapak pembangunan, kendati di balik suksesnya pembangunan (ekonomi), masih ada sebagian kelompok masyarakat yang tertindas hak-haknya.

Musuh Orde Baru adalah mereka yang selalu menentang pemerintahan. Kritik dianggap kerikil tajam di jalanan yang mutlak harus dibersihkan demi tinggal landas pembangunan menuju Indonesia yang adil dan makmur. Sehingga mereka yang berpotensi untuk melawan, disingkirkan sesegera mungkin dan takkan dibiarkan bernafas bebas di Bumi Nusantara ini.

Banyak putra-putri terbaik Indonesia yang hingga kini memilih untuk tinggal di luar negeri karena mereka tak diberi tempat di Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa ikatan dinas (Mahid), wartawan, dan mantan diplomat Indonesia di era pemerintahan Soekarno. Mereka tak bisa pulang kembali ke tanah air karena perbedaan cara pandang berpolitik dengan pemerintah Orde Baru.

Salah satu dari mereka adalah Soeraedi Tahsin Sandjadirdja (1922-2003) atau dikenal sebagai S Tahsin. Tahsin adalah wartawan kawakan kelahiran Pandeglang, Banten, 6 Juli 1922 dan meninggal di Amsterdam, Belanda, pada 25 Februari 2003. Tahsin bukanlah nama asing dalam dunia kewartawanan Indonesia. Pada zamannya ia seangkatan dengan Djawoto (Antara), Djamal Ali (Pikiran Rakyat), Darsyaf Rachman (Mimbar Indonesia); B.M. Diah (Merdeka), Rosihan Anwar (Pedoman), Mochtar Lubis (Indonesia Raya), dan Moh. Said (Waspada).

Pada tahun 1945, ketika revolusi fisik dan usaha mempertahankan kemerdekaan berlangsung, ia bersama-sama Roesli Amran dan beberapa kawannya yang lain mendirikan koran harian Berita Indonesia. Putra Banten ini juga tercatat sebagai pendiri Akademi Jurnalistik Dr Rivai. Kampusnya bukan sebuah gedung besar, tapi cukup menempati ruangan beranda rumahnya di jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Tahsin juga berperan di dalam pendirian kantor berita Indonesian National Presse Service (INPS)

Selain itu, Tahsin adalah wartawan senior yang mendirikan sekaligus memimpin harian Bintang Timur. Sebelum tahun 1965, Bintang Timur adalah koran yang terkemuka di Indonesia dan juga tempat Pramoedya Ananta Toer, Hasyim Rahman dan Tom Anwar bekerja sebagai wartawan. Sebagai juruwarta kawakan, Tahsin banyak berperan di dalam mendirikan Persatuan Wartawan Asia Afrika (PWAA).

Peran aktif itu pula yang membawanya diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai duta besar berkuasa penuh untuk Mali yang berkedudukan di Bamako pada 1965. Belum beberapa menduduki jabatan sebagai duta besar, bulan Oktober 1965 terjadi pergolakan politik di Indonesia. Presiden Soekarno digeser secara perlahan. Kekuasaan pun beralih ke tangan Jenderal Soeharto.

Melihat perubahan politik yang drastis dan penangkapan-penangkapan yang membabibuta, Tahsin, disertai dengan istri dan anak-anaknya pindah menuju Paris, Prancis dan menetap di sana untuk beberapa lama sebelum akhirnya pindah ke China. Di negeri tirai bambu itu Tahsin dan keluarga menetap selama 10 tahun. Dari China mereka kemudian pindah ke Negeri Belanda, di mana pemerintah Belanda memberikan suaka politik pada Tahsin.

Semasa masih hidup, Tahsin dikenal sebagai orang yang berwatak keras di dalam memertahankan prinsipnya. Darah Banten yang mengalir dalam diri Tahsin kemungkinan memengaruhi sifat keras kepala dan non kompromisnya itu. Keharusan hidup jauh dari tanah air tak berarti putus harap bagi Tahsin untuk membaktikan diri pada Indonesia. Di negeri kincir angin itu Tahsin mendirikan penerbit dan toko buku “Manus Amici” bersama dengan Els, istrinya dan Ibrahim Isa, mantan wartawan yang juga aktif di dalam PWAA.

Penerbit itu berjasa di dalam menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer di luar negeri. Keadaan fisik yang selalu sakit-sakitan, akhirnya membuat Tahsin tak lagi mampu menjalankan aktivitasnya. Ia meninggal pada 23 Februari 2003 di negeri Belanda, sebelum keinginannya untuk pulang ke Banten terpenuhi. Tahsin meninggalkan seorang istri dan empat anak lelaki. Ketika berada di Belanda beberapa waktu lalu, saya sempat menyambangi Tante Els, demikian saya memanggil istri S Tahsin itu. Di kediamannya yang terletak di tenggara Amsterdam, saya mendengar banyak cerita dari Tante Els, bukan tentang Belanda, tapi tentang Banten, kampung halaman yang selalu ia rindukan.

Di rumahnya, saya dipersilakan menyantap makan malam, bukan roti Belanda, tapi gulai kambing khas Indonesia. Kenapa gulai, karena tidak memungkinkan bagi Tante Els untuk memasak rabeg, makanan khas masyarakat Banten. Paling tidak itu yang dia katakan pada saya.

Soeraedi Tahsin Sandjadirdja adalah satu contoh tentang bagaimana seorang wartawan terkemuka yang berjasa bagi bangsanya namun harus hidup sebagai buangan politik. Indonesia memang sebuah negeri yang penuh dengan ironi. Seperti kata Koes Ploes, “mudah-mudahan ini hanya mimpi”dan tidak akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Semoga.